  urlLink Kalo lagi nyetir di jalan, empat hal yang paling gue benci adalah: 1. sepeda motor 2. sepeda motor 3. bis/bajaj 4. bajaj/bis Biasanya orang paling benci ama bajaj karena "hanya Tuhan dan supir bajaj yang tahu ke mana berikutnya bajaj itu mengarah", gitu kata banyak orang.
Not me . Di jalan yang sering gue lalui, bajaj bisa dibilang gak ada. Yang ada tuh sepeda motor, sepeda motor, sepeda motor, baru abis itu bis, bis, bis. The problem with motor cycles adalah kemampuan kendaraan beroda dua itu nyelip-nyelip di antara barisan kendaraan roda empat. I truly despise motor cycles because it seems to me all motor cyclists assume that the road belongs to them and them only, that other vehicles besides motorcycle simply do not exist! Hhh!!! Tapi gue gak sampe menerapkan salah satu teori dalam Murphy's Law sih, yang bilang, " You never really really learn how to swear until you learn how to drive ".
Paling tampang gue aja yang keliatan betenya, hehehe. Sebenernya, pas pertama-tama gue (mulai bisa) nyetir, gue masih berbaik hati berpikir kalo para pengendara sepeda motor itu just as civilized as car drivers . Jadi kalo mau ambil jalan ya lihat apa di belakangnya ada mobil atau kendaraan lain, nggak sembarang selonong boy/girl gitu. Waa, sangkaan gue salah! Malah gue dikasitau kalo orang-orang yang naik motor ya selalu berpikiran bahwa pengendara mobil akan ngalah sama mereka.
Yikes! Alhasil, gue sering 'notol' motor, hehehe. Ada pengendara motor yang melotot ngeliatin gue, sementara gue dengan cueknya cuma melambai-lambaikan tangan nyuruh dia maju. Ada juga yang nggak memperpanjang masalah dan langsung jalan - mungkin takut dia yang disalahin. Yah, gitulah perang gue dengan sepeda motor. Korbannya? Adik gue dong, karena mobilnya gue pake untuk extreme action , hehehe :P Note: Blabla tentang teori Murphy's Law diambil dari novel "Cintapuccino" karya Icha Rahmanti (a novel that will soon be a hot gossip topic, I dare say). 
